Leave a comment

Mbah Gotho : Ketika Kematian Menjadi Yang (sangat) Diharapkan

KTPmbahGotho.jpg

Mbah Gotho yang bernama asli Sodimejo menunjukkan KTP-nya. Kenapa KTP-nya baru, karena sering hilang. *Copyrighted Kusumasari Ayuningtyas – BenarNews.org

Beberapa waktu lalu heboh pemberitaan tentang manusia yang diklaim tertua di dunia yang berasal dari Sragen, Jawa Tengah. Namanya mbah Gotho. Konon usianya saat ini sudah mencapai 146 tahun. Pertama baca berita itu di media online, ga begitu tertarik awalnya. Sampai kemudian, tibaknya embuk disuruh bikin ficernya si embah sama editor.

Embuk pun langsung cari info dong ya, dasarnya kemarin-kemarin nyante-nyante aja waktu teman-temin pada liputan. Dipikirnya si embuk kantor ga tertarik sama yang begituan. Hehehehe. Kontak sana kontak sini, dapat juga alamat si embah. Jauhnyooo, Sragen sih tapi perbatasan Jawa Timur. Horeee. Ya 3 Jam lah motoran lancar dari Klaten. Secara embuk kalau naik motor ya gitu deh, alon-alon penting kelakon.

Alhamdulillah, ada teman yang baik hati mau menemani embuk liputan ke sono. Diboncengin lagi si embuknya yang mulai rapuh ini. Ngebut dia, jadi cepat nyampainya. Udah dikasih ancer-ancer juga sama teman-temin yang lain, jadinya ga bingung-bingung bingits. Dasarnya si embah juga terkenal di seantero kampungnya sana.

Nah, pas dah nemu rumahnya, kita malah jadi bingung. Soalnya, di rumah yang selalu terbuka pintunya itu cuma ada si embah. Gimana caranya komunikasi yaks?! Mumetlah kita. Maklum, si embah kan sudah sepuh ya, matanya sudah banyak berkurang, lihat orang gitu mungkin kayak lihat bayangan aja. Bingung dia lihat kita berdua. Berkali-kali tanya kita itu siapa, cuma pindah tempat aja si embah balik nanya lagi, kita siapa, sebenarnya kita ke situ berapa orang, dst.

Njelasinnya tambah susye lagi. Si embah sudah ga bisa mendengar dengan jelas. Harus teriak-teriak, meski kita merasa suara kita sudah keras to the max, sepertinya masih terdengar samar-samar buat simbah. Bahkan, warga yang sedang duduk-duduk di perempatan jalan bilang suara kita kurang keras, dan kalau ngomong harus dideketin ke telinganya simbah.

Di tengah kepusingan tiada tara itu, akhirnya kita coba menghubungi cucu si embah. Sekitar 10 menit kemudian, cucunya simbah datang. Namanya Suryanto, usianya selisih 100 tahun dengan simbahnya. Suryanto ini cucu dari anak kedua dari istri keempat simbah. Simbah kan punya empat istri, tapi bukan poligami. Cerai mati istilahnya kalau di KTP ya.

Nah, dengan Suryanto inilah kami menanyakan banyak hal tentang simbah. Banyak sekali pertanyaan kami, tetapi tidak semua bisa dijawab oleh Suryanto. Dimaklumi, karena dia juga hanya seorang cucu, dan setiap kali simbah menikah lagi, hubungan dengan keluarga istri sebelumnya seakan terputus.

Dan Suryanto ini hanya mendapatkan cerita-cerita tentang simbah dari ibunya yang sudah meninggal tahun 1993 lalu. Simbah putrinya, atau istri simbah Gotho yang keempat juga terkadang bercerita tentang masa lalu simbah kepada Suryanto. Tetapi ya begitulah, tidak lengkap sekali, sepengatahuan dan seingat simbah putrinya dong ya.

SurayantoBersihkanNisanMbahGotho.jpg

Suryanto, cucu simbah Gotho, membersihkan nisan yang sudah dipesan simbah sejak 22 tahun lalu. *Copyrighted Kusumasari Ayuningtyas

Nah, simbah putri ini sudah meninggal juga, setahun lebih dulu dari ibunya Suryanto. Menurut cerita Suryanto, sejak mbah putri dan ibunya meninggal, dialah yang merawat mbah Gotho dan menemani mbah Gotho yang tetap bertahan di rumah masa kecilnya. Dan setelah ditinggal mati istri dan anak perempuannya, Mbah Gotho yang saat itu berusia 122 tahun minta dibelikan nisan. Bagian tanggal kematiannya masih dikosongkan.

Dua puluh tahun berlalu, dan nisan pesanan simbah masih setia di salah satu sudut teras rumah simbah menemaninya menghabiskan masa tuanya yang entah sampai kapan akan berakhir. Hanya satu hal yang selalu diharapkan simbah Gotho sejak dia membeli nisan itu, yaitu kematian. Serem ya kayaknya, tapi tidak untuk simbah. Kematian menjadi satu-satunya cita-citanya yang dia harapkan dapat terwujud tahun ini.

Sekedar informasi, menurut keterangan cucunya, simbah ini juarang sakit dan belum pernah ke dokter ataupun bidan. Sakitnya hanya sekitar masuk angin, itupun tanpa batuk. Eh, bener. Simbah yang perokok berat ini sama sekali tidak pernah batuk selama kita di sana, padahal ada 2 jam. Lucunya juga, simbah ini sudah sulit sekali memegang apapun dengan kedua tangannya. Pegang KTP supaya bisa kita foto dengan bagus aja susahnya ya ampun. Tapi pegang rokok? Ulala, mahir. Luwes banget jepit rokok dan arahin ke mulutnya. Sehari habis minimal 2 bungkus.

Well, liputan ini dah keluar lama. Tapi embuk baru sempat bikin behind the scene-nya sekarang. Sibuk biyat soalnya. Wakakakak. Fotonya Copyrighted BenarNews.org – RFA. Baca Berita Mbah Gotho di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: