Leave a comment

Cerita Liputan Eksekusi Mati Batch 3 : Romo Carolus

Romo Carolus

Romo Carolus saat dicegat wartawan jelang eksekusi hukuman mati tahap 3 di Cilacap, Jawa Tengah.

Kakek-kakek yang sedang dikerubuti jurnalis ini namanya Romo Carolus. Nama aslinya, Charles Patrick Burrows, aslinya dari Irlandia. Dia mulai ditugaskan di Paroki St Stephanus Cilacap pada 1973. Romo Carolus ini sudah berstatus sebagai Warga Negara Indonesia sejak tahun 1983.

Embuk sempat mewawancari Romo Carolus terkait eksekusi mati tahap 3. Yups, Romo memang salah satu rohaniawan pendamping terpidana mati di Nusakambangan. Romo tidak hanya mendampingi terpidana mati yang beragama katolik, pernah juga dia mendampingi terpidana mati yang beragama Nasrani.

Meski mendampingi terpidana mati, bukan berarti Romo mendukung eksekusi mati,  Romo pro-life. “Tentu saja saya prolife karena yang memberi hidup semua manusia adalah Tuhan.”

Dia pernah bersaksi di Mahkamah Konstitusi tentang kejamnya hukuman mati dengan cara ditembak. Kepada embuk dan jurnalis yang menemuinya untuk wawancara Romo juga menceritakan ingatannya saat dia sebagai rohaniawan masih diijinkan untuk mendampingi terpidana mati sampai detik-detik terakhir kematiannya.

Romo mengatakan, dia menyaksikan dari saat terpidana mati diikat ke tiang dengan tali sampai mereka diturunkan dari tali setelah eksekusi dilaksanakan. “Ada 7-8 minutes mereka mengerang kesakitan baru mati,” kenang Romo.

Ingatan itu begitu membekas. Bahkan, Romo masih ingat ketika sebelum eksekusi, terpidana mati bertanya kepadanya dengan mata yang sudah ditutup, “Father you there?” dan dijawab Romo dengan “Yes, I’m here, I’m here until the last.” Romo diminta untuk mengambil sepatu dan bajunya supaya diberikan kepada istrinya nanti setelah dia dieksekusi.

Kata Romo, dia pernah menghadap Presiden Jokowi dan meminta moratorium hukuman mati. Presiden menjelaskan kepada Romo alasan kenapa hukuman mati terhadap terpidana mati kasus narkoba harus tetap dilaksanakan.”Bapak Presiden mengerti tetapi dia bilang karena masalah yang ditimbulkan besar terpaksa diambil cara ini.”

Dan eksekusi mati dengan cara penembakan oleh regu tembak ini dikatakan Romo berat untuk semua pihak seperti jaksa, polisi, dan semuanya. Bagi Romo secara pribadi penembakan dirasa sangat tidak manusiawi. “Mereka mulai memikirkan untuk lethal injection.”

Romo juga berharap, rohaniawan kembali diperbolehkan mendampingi saat terpidana mati berhadapan dengan regu tembak sampai menghembuskan nafas terakhir. Setelah tahun 2008, rohaniawan memang tidak diperbolehkan mendampingi saat proses penembakan berlangsung. “Sebelum ditembak kami disingkirkan.”

Padahal menurut Romo di saat-saat terakhir mereka butuh teman untuk membantu melewati derita mereka menjelang kematian. “Ada yang saya dampingi dulu, begitu kesakitan. Saya pegang tangannya, saya nyanyikan Amazing Grace, dan dia diam sampai akhirnya dia mati.”

“Terpidana mati juga manusia, tidak ada manusia yang mau mati apalagi dengan cara dibunuh. Tapi kita berusaha membimbing agar mereka die in dignity.”

Ini story soal Romo Carolus, ada dua versi yaks : http://www.benarnews.org/indonesian/berita/romo-carolus-08122016162503.html dan http://www.benarnews.org/english/news/indonesian/priest-profile-08162016172852.html?searchterm:utf8:ustring=charles+patrick+burrows

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: