1 Comment

Ojek Difabel Satu-satunya Di Dunia ada di Jogja

Aris (kiri) dan Triyono (kanan) mengendarai ojek motor Difa di Kantor Difa.jpg

Mas Aris (kiri) bersama Pak Tri (kanan) di salah satu kendaraan milik Ojek Difa

September yang ceria lalu embuk sempat liputan ojek difabel satu-satunya di dunia yang adanya di Jogja Nama resminya Difa City Tour & Transport, sebutan asiknya Ojek Difa. Liputannya ga sendiri, ditemani adikku si Lili yang hapal sekali seluk beluk dan liku-liku jalanan di Jogja ga kayak embuk yang bingungan dan biasanya nyasar padahal dah nanya.

Janjiannya siang-siang gitu sama inisiatornya Ojek Difa, namanya Triyono. Kita sempat bingung nyari kantornya, karena kurang cermat aja. Pas nanya di SD dekat-dekat situ sama seorang ibu-ibu yang lagi jemput anaknya dia ga tau Ojek Difa. Lalu kita tanya-tanya ke ibu-ibu yang jualan di jalan kami masuk tadi, dia juga ga tahu pasti cuma tahu kalau ada sebuah rumah yang rame keluar masuk orang naik motor berbentuk gerobak.

Ya sudah, kita telusuri petunjuk ibu tadi, ternyata memang itu Ojek Difa. Lah, kita mikirnya njuk begini : Ini tetangga-tetangga yang dekat kenapa bisa tidak tahu ya? Sepi waktu kita datang. Di rumah bercat putih milik Prabu Angling siang itu cuma ada Triyono yang kita sapa Pak Tri sama dua orang admin yang juga merangkap driver, Pak Puji sama Mas Aris.

“Driver lainnya ga ngantor di sini, mereka langsung ambil penumpang karena calon penumpang biasanya udah janjian dulu sama para driver,” terang Pak Tri.

Ojek Difa ini berdiri tanpa sengaja. Awalnya Pak Tri yang seorang pengusaha dan konsultan bisnis itu mau menunaikan CSR (Company Social Responsibility) di bulan Juli 2015. Dia bersama rekan-rekannya sesama pengusaha patungan membeli motor untuk diberikan kepada komunitas difabel di Kota Jogja. Nah, setelah bertemu dengan komunitas dan melihat seperti apa kecacatan mereka, barulah ketiga motor itu dimodifikasi. “Kita ga tau ya apa saja kegiatan mereka, kita cuma ingin mereka lebih mobile dengan bantuan yang kita berikan,” kata Pak Tri.

Sebulan setelah motor diberikan, Pak Tri mencoba mengecek ke komunitas. Dia kaget, “Loh, ini motornya kenapa ga dipake?” Dijawab oleh para anggota komunitas kalau mereka tidak punya uang untuk beli bensin. Sadarlah Pak Tri kalau mereka tidak hanya butuh motor tapi juga butuh sistem.

Pada waktu yang hampir bersamaan ojek onlen juga baru saja masuk ke Jogja. “Saya pikir, kenapa tidak sekalian saya sounding-kan saja,” gitu kata Pak Tri. Tiga bulan pertama Pak Tri mendampingi dua orang anggota komunitas yang bersedia mencoba untuk menjadi driver ojek keliling Jogja mencari penumpang.

Kenapa harus ditemani? Karena mereka masih malu-malu dan belum tahu bagaimana caranya mencari penumpang, menjemput penumpang dan mengantarkan mereka ke tujuan. Mereka juga masih malu berkomunikasi dengan calon penumpang. Meski sudah ditemani pun tidak jarang mereka masih tampak enggan.

“Itu dulu, sekarang mereka semangat sekali dan merasa bangga sudah menjadi driver ojek Difa,” kata Pak Tri.

KantorOjekDifabelDifa.jpg

Kantor Ojek Difa di Kawasan Pakualaman, Yogyakarta

Kurang Dikenal di Jogja

Nah, lama mengobrol, baru kemudian embuk tanyaken soal ganjalan di hati embuk. Kenapa tadi ibu-ibu yang rumahnya dekat dengan kantor Difa di Pakualaman tidak tahu tentang keberadaan ojek Difa. Pak Tri membenarkan, dia bilang, Ojek Difa memang tidak populer di daerah sendiri dan justru lebih dikenal di daerah-daerah lain. Salah satu penyebabnya karena sosialisasi Ojek Difa dilakukan dengan media sosial. Dan para driver juga tidak mangkal di lokasi-lokasi tertentu melainkan menerima order kemudian janjian untuk dijemput.

Ojek Difa juga pernah mangkal di tempat-tempat strategis. Tetapi justru menimbulkan ketidaksukaan pada ojek lainnya. Bagaimana tidak, dicontohkan Aris, dia selalu diusir setiap kali mangkal di terminal. Alasannya, karena calon penumpang meski bukan seorang difabel pasti lebih memilih naik Ojek Difa karena bisa memuat dua penumpang atau lebih sekaligus mengangkut barang bawaan.

“Kalau anak-anak kita malah bisa angkut lima orang,” ujar Aris.

Karenanya, Tri akhirnya lebih memilih dilakukan sosialisasi yang menurutnya lebih elegan dan tidak menimbulkan kebencian dari pihak-pihak tertentu. Dan ojek yang juga melayani City Tour ini juga fokus pada pelanggan tetap mereka yang sampai Kulonprogo, Solo, dan Kebumen. Dan sekarang Ojek Difa sudah punya 20 driver dan 20 motor ojek.

Tarif Ojek Difa Rp 20.000,- per 5 kilometer, dan bertambah Rp 2.500,- setiap 1 kilometernya. Sedangkan untuk City Tour dengan rute-rute yang disepakati tarifnya Rp 300.000,- untuk 4 jam. Catatan pentingnya, meski sebutannya Ojek Difabel, tetapi ojek ini sifatnya universal, atau bisa untuk siapapun.

“Di sini kita juga membawa pesan, supaya masyarakat umum tidak melihat seorang difabel sebelah mata,” tandas Pak Tri.

Advertisements

One comment on “Ojek Difabel Satu-satunya Di Dunia ada di Jogja

  1. […] Waktu embuknya baru membelok ke gang menuju lokasi latihan yang jaraknya sekitar 1 kilometer (baca : 50 meter) *sekarang kan jamannya lebay kaka* suara anak-anak Vocalista Angel sudah terdengar menggema. Mudah sekali menebak rumah mana yang mereka pakai untuk latihan. Secara embuk itu awalnya mikir, duh nanti bakalan tebak-tebak buah manggis kayak biasanya deh soalnya lokasinya di kompleks perumahan begitu kayak pas nyari lokasi kantor Ojek Difa. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: