1 Comment

Penyapihan si Adek Bagaikan Berdansa Dalam Badai

Adek

Senyum ini kembali lagi di wajah imutnya pada hari ketujuh penyapihan

Menyapih anak keduaku (kita panggil saja si adek) tidak semudah menyapih si kakak. Karakternya adek memang lebih keras dari kaka. Sounding yang embuk lakukan tidak hanya sehari dua hari tetapi hampir tiga bulan dan itu setiap saat dan setiap ada kesempatan. Tapi sepertinya sounding tidak bekerja dengan baik, mungkin soundingnya salah kali ya. Hehehe.

Pada bulan puasa, produksi ASI embuk turun drastis. Efeknya, si adek agak malas nenen. Capek mungkin ya karena usaha tidak sebanding dengan hasil. Ga ada asupan makanan ASI yang keluar dikit, alhasil si adek hanya nen sekitar 15 menitan kemudian minta dibikinin susu. Melihat itu embuknya seneng, sampe nyetatus segala kalau puasa kali ini sekaligus menjadi momentum penyapihan untuk si adek. Ternyata oh ternyata, begitu puasa usai dan embuk kembali makan tiga kali sehari dan ngemil ASI kembali deras. Si kecil nempel lagi. Gagal sudah. Malah kayak pelantikan pejabat saja, pisah sambut.

Liburan sekolah masih sekitar 14 hari. Embuknya masih nyantai, oke deh masih ada kesempatan buat nyapih. Di hari ketujuh, si adek imunisasi. Tiga hari setelahnya dan kondisi si adek oke, embuk memulai penyapihan yang sebenarnya. Nenen benar-benar tidak diberikan dan kali ini dengan cara yang awalnya tidak sesuai dengan teori-teori parenting.

Yups, embuk mencurangi si kecil dengan mengoleskan kunyit ke payudara embuk. Hasilnya, si adek ga mau nen. Waktu siangnya sih oke, sore baik-baik saja, begitu waktunya tidur dan kantuk telah datang, drama pun dimulai. Si kecil yang irit tangis ini menangis dan mengamuk hampir sepanjang malam. Ketika embuk menyodorkan payudara karena tidak tega, si kecil terlanjur ingat warna kuning yang menempel di payudara tadi pagi karena dioles kunyit. Bisa ditebak, dia galau. Antara pengen nen dan ga mau nen tapi juga ga mau minum yang lain. Stress sudah embuknya. Kami berdansa dalam badai malam itu. Ya kami, aku dan suamiku. Ayah sebenarnya kaget juga dengan penyapihan ini tetapi dia tetap mendukung karena bagaimanapun ini demi hari-hari selanjutnya yang lebih baik.

Dini hari akhirnya si kecil bisa tidur dan mau minum. Dia minta minum teh punya kakung pakai gelas kakung yang super besar itu. Malam pertama yang aduhai membuat embuk goyah, tapi Kakung dan Uti mengatakan embuk tidak boleh mundur, mereka bilang semua akan terlewati. Baiklah. Embuk pun mencoba tidur cukup untuk mempersiapkan malam kedua. Beruntung, seharian si kecil sama sekali tidak rewel dan tidak minta nen. Dia makan cukup banyak dan minum banyak.

Malam datang, kantuk menyerang dan si kecil mulai rewel. Kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Tetapi dia tidak rewel sepanjang malam, hanya terbangun dua kali dan ketika bangun memang galau kemudian rewel tapi tidurnya lumayan. Oke, hari kedua malam kedua lumayan.

Hari ketiga ada sedikit kecerobohan, si kecil jatuh dari sepeda. Tangannya lecet, bibirnya berdarah dan sepertinya perih. Alhasil malamnya rewel sambil mengeluh sakit, aduh. Dan si doi nyaris tidak tidur semalaman. Embuk dan ayah juga. Hmmmm, esok harinya si kecil anget tapi masih mau makan. Embuk berinisiatif membawanya ke bidan sama si kaka juga yang menunjukkan tanda-tanda batuk pilek. Dan benar, malamnya yang adalah malam keempat penyapihan hidung mereka meler dan batuk tiada henti. Si adek sebenarnya udah ga terlalu memikirkan nen, tetapi sering terbangun karena hidung mampet dan terganggu tidurnya akibat batuk yang bikin gemes.

Tengah malam, si adek panas tinggi. Waduh, biasanya kalau panas begini doi nen nempel semalaman dan keadaan akan lebih baik esok harinya. Lha ini? Ah, baiklah embuk tetap harus bakoh. Akhirnya, dengan segala cara embuk membuat si adek minum sebanyak-banyaknya supaya doi bisa melewati demamnya dengan aman. Jangan sampai dehidrasi kalau si kecil panas dan kompres air hangat di ubun-ubun. Oke, panas agak turun sekitar subuh. Tetapi sekitar pukul 6 pagi panas naik lagi, akhirnya pukul 10 pagi takbawa ke dokter yang biasa menangani si adek sejak kecil. Dikasih obat turun panas sama pengencer dahak dan obat anti mual karena kalau makanan masuk selalu muntah.

Setelah minum obat, panasnya berangsur turun dan stabil sampe esok harinya. Dan semalaman si adek Cuma bangun sekali minta minum dan embuk kasih air putih ditaruh botol dot gitu, diminum sampai habis trus bobok lagi tapi minta diemban. Paginya, sudah ceria meski susah makan dan itu hari sabtu. Embuk suka hari sabtu karena ayah pulang awal, pukul 13 sudah di rumah. Begitu sampai rumah, ayah langsung menyuapi adek dan kakak, meski sedikit tapi mau makan si adek. Kalau kakak, meski sakit dia sudah ngerti kalau makan itu penting, kalau sakit justru harus makan banyak biar cepet sehat.

Sorenya, adek maem lumayan banyak. Dan kondisi stabil. Aman. Karena dokter berpesan, kalau masih panas setelah minum obat yang dia berikan supaya segera dibawa ke RS lagi untuk cek darah. Alhamdulillah, tidak perlu cek darah. Hari minggu, si adek paginya ga mau makan. Hari itu kami ada rencana untuk pergi menengok keponakan. Akhirnya, meski masih belum fit, si adek kami ajak juga kakak. Benar saja, di lokasi adek lesu dan bersandar sama ayah terus sampai tertidur. Bangun tidur panas naik. Embuk minta pulang saja supaya bisa kasih obat karena pagi memang tidak minum obat karena adek pagi mogok makan. Dan benar, setelah dikasih obat turun panas badannya mulai dingin. Beruntung, saat di rumah saudara adek akhirnya mau makan.

Sorenya, kondisi bagus. Cuman dia jadi lengket sekali dengan ayah. Dia minta dikelonin ayah. Dan malam itu dia tidur dengan mudah ga pake rewel. Malam juga bangun sebentar minta minum tanpa rewel.

Senin paginya adek bangun dalam kondisi segar, hari itu hari pertama masuk sekolah. Si adek ini “sekolah” di daycare. Dia semangat sekali karena sudah lama dia merindukan sekolahnya. Dan meski pulangnya pagi dia begitu ceria sepulang dari sekolah dan banyak bercerita meski embuk ga begitu ngerti apa yang dia ceritakan karena artikulasinya masih belum jelas. Malamnya atau malam ketujuh penyapihan sempat ingat nen, tapi sudah tidak rewel cuma pengen liat nen aja.

Malam kedelapan kondisi sudah mulai membaik. Bobok dengan mudah, tidak rewel dan malamnya bangun minta minum selesai minum bobok lagi. Dan saat embuk menulis ini sudah malam kesebelas penyapihan. Dan adek minta minum sebelum tidur, ketika adek minum mik botol sambil tidur embuk mengetik ini dan dia tidur dengan sendirinya.

Maenan

Siang hari dia banyak main jadi lupa deh sama nen.

Saya ada sedikit tips untuk ibu-ibu yang harus menyapih karena tuntutan kondisi dan mungkin tidak bisa menerapkan segala teori parenting tentang penyapihan yang banyak di share di media sosial itu. Pertama, komunikasikan dengan seluruh keluarga dan pastikan mereka mendukung. Karena kita sebagai ibu setegar apapun kita pada awalnya, ketika melihat kesayangan menangis merindukan nen akan ada saatnya goyah. Di situ dukungan keluarga sangat penting, utamanya suami dan orang-orang yang tinggal satu atap dengan kita. Ga usah mikirin omongan tetangga.

Kedua, kondisi ibu dan anak harus fit. Dalam kasus embuk yang punya dua balita sekaligus, si kaka usia 4 taun, adek 2 taun, ada kondisi yang di luar kendali kita. Seperti si kaka yang tiba-tiba batuk dan menular pada si adek. Biasanya sih adek ga mudah ketularan kalau Cuma batuk, tetapi mengingat selama beberapa hari tidurnya kurang dan makannya tidak sebanyak biasanya dia jadi mudah ketularan dan pakai panas tinggi, padahal kakak yang batuk duluan ga pakai panas.

Ketiga, kalau bisa pilih hari libur kecuali kalau si ibu full time di rumah aja, it’s okey. Tetapi kalau si ayahnya kerja, kan kasihan juga kalau tidurnya terganggu. Jadi lebih baik pilih hari libur, misal jumat malam sabtu karena biasanya berlangsung beberapa hari rewelnya.

Keempat, usahakan si kecil minum cukup dan makan banyak supaya dalam kondisi kenyang. Anak yang kenyang akan lebih mudah diatasi. Kelima, sabar, sabar, dan sabar. Harus dimaklumi, segala kerewelannya sangat beralasan ya ibu-ibu. Keenam, berikan banyak pelukan dan ganti ritual nen sebelum tidur dengan pijatan lembut di kaki, elusan di punggung dan sebagainya. Ketujuh, berdoa dan berdoa pokoknya berdoa. ASI adalah pemberian Yang Maha Kuasa, Dia juga yang punya kuasa menentukan apakah penyapihan berjalan lancar atau tidak.

Maem Ceker

Usahakan perut selalu kenyang, tidak harus nasi, cemilan juga tidak apa.

Sedikit catatan untuk ibu-ibu, saat menyapih payudara mungkin akan terasa keras dan nyut-nyutan di hari kedua karena terlalu lama tidak diminum. Kalau embuk mengakalinya dengan memerahnya sampai terasa sedikit lunak dan tidak sampai mengosongkan payudara. Meskipun para tetangga bilang jangan diperah dan cukup dioles rendaman daun salam saja, embuk nekat. Lha mereka Cuma kasih larangan, sini yang menderita. Ternyata, meski ngeyel ndilalah berhasil. Di hari kelima, embuk dah ga ngerasa nyut-nyutan dan sama sekali ga perlu memerah karena memang ga terasa keras. Di hari kesebelas ini sudah normal seperti saat belum menyusui dulu. Jadi, ga perlu ya saklek dengan berbagai aturan yang ditulis di artikel, disesuaikan dengan kondisi aja. Niat yang baik akan berakhir dengan baik.

Alasan embuk ketika akhirnya menyapih adalah untuk memudahkan si adek sendiri saat embuk ke luar kota sampai menginap. Karena semakin besar, doi semakin lengket sama nen semakin ga bisa ditinggal. Ditinggal tugas semalam aja heboh serumah karena si adek rewel semalaman nyari nen. Dan sekarang, bobok sambil dipijit kakinya sama kakung sementara embuk setrika aja bisa. Cepet lagi boboknya. Dan jamnya juga ga jauh beda sama waktu nen. Masih di kisaran jam 7 jam 8 malam. Okey emak-emak, selamat menyapih, ingatlah menyapih hanya sebuah proses parenting. Yang penting tetaplah memperlakukannya seperti saat masih nen. Misal dielus-elus saat mik susu.

 

 

 

 

Advertisements

One comment on “Penyapihan si Adek Bagaikan Berdansa Dalam Badai

  1. […] Source: Penyapihan si Adek Bagaikan Berdansa Dalam Badai […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: