Leave a comment

Menenun Kain Tenun

Advertisements
Leave a comment

Payung Festival Pertama

Jpeg

Festival Payung di Balekambang bertahun-tahun yang lalu waktu embuk hamil Nanin, brati tahun 2014. Beritanya waktu itu keluar kecil sakuplik di Jakpost, kalau fotonya? Nehi. Hihihihi.

Alhamdulillah ya, tahun ini embuk bisa liputan Festival Payung Indonesia lagi setelah absen sekian tahun *lebay. Absen kenapa embuk? Lairan sodara-sodara. Hihihi. Sebenarnya udah lahir sih, cuman masih masa-masa ga mau pergi jauh-jauh dari si bebi.

Jadi ingat waktu liputan festival payung yang pertama, waktu itu baru pertama kali ya, tahun 2014. Liputan sendiri gek dalam kondisi hamil muda-muda gimana gitu. Justru ini yang bikin ingat bingit. Hehehe. Gimana enggak, daku nyaris pingsan waktu lagi wawancara salah satu panitianya. Ga kuat berdiri kelamaan apalagi sambil jalan. Malu sama narasumber, pura-puranya udahan aja yang wawancara padahal blas belum dapat detilnya. Beruntung, masih kuat buat motret-motret ala kadarnya. Hehehe.

Continue Reading »

Leave a comment

Tulisan pertamaku tentang Jokowi

Pencalonan Joko Widodo atau akrab dipanggil Jokowi serta Asean Paragames VI menjadi isu yang menghadang saya saat awal-awal bekerja sebagai freelance journalist di The Jakarta Post. Sejak kuliah di Universitas Sebelas Maret kisaran tahun 2004-2009 saya sudah banyak mendengar berbagai sepak terjang Jokowi sebagai Walikota. Memang belum begitu banyak karena dia baru maju sebagai Walikota Surakarta pada tahun 2006 dan pada saat itu dia langsung sibuk menata Kota Solo termasuk membuat ikon Solo Kota Budaya.

Belum banyak yang saya ketahui kala itu karena selama kuliah saya termasuk jarang keliling-keliling Kota Solo dan lebih banyak berada di areal kampus sehingga saya tidak begitu paham apa yang sudah berubah dan apa yang sedang dikerjakan.

Ketika akhirnya saya berkesempatan untuk mengenalnya lebih dekat dan mencari tahu apa saja yang sudah dilakukannya dia sudah mempersiapkan dirinya untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta. Dan story saya tentang dia saya tulis pada 6 Desember 2011 dan tayang di edisi cetak The Jakarta Post atau The Post pada 7 Desember 2011, Jokowi Still Mulling Jakarta Governor Bid.

Saya bersyukur menjadi salah satu jurnalis yang berkesempatan menyaksikan detik-detik ‘keberangkatannya’ ke Jakarta. Menurut saya kala itu terhitung luar biasa. Bagaimana tidak, sosok Jokowi sebelumnya seakan identik dengan image Solo-nya dan seandainya akan melanjutkan kiprah politiknya kemungkinannya adalah menjadi Gubernur Jawa Tengah. Ternyata oh ternyata, melenceng jauh. Dia memilih, ah, lebih tepatnya dipilih untuk meneruskan kiprahnya ke Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia di Kota Metropolitan sana.

Masih teringat jelas, ketika itu saya diminta untuk menanyakan tentang kemungkinan yang lebih jauh lagi, yaitu kemungkinan untuk menuju RI 1. Dan olehnya, pertanyaan itu dijawab setengah bercanda kalau dia lebih pantas menjadi seorang Kepala RT. Pada akhirnya, setelah dua tahun menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, dia benar-benar melenggang ke RI 1.

Leave a comment

Lewat Secangkir Kopi

Ini cerita bersambung, masih dari Femina juga. Meski sampai sepuluh seri, tapi tidak membosankan. Malah membuat penasaran. Kisah cinta aneh sepasang manusia yang keduanya sama-sama baru ditinggalkan belahan hati. Mereka menikah begitu saja tanpa tahu apa mereka saling mencintai, hidup berdua seperti seharusnya sepasang suami istri tanpa ada yang tahu jika mereka berdua berlaku selayaknya teman saja. Bahkan mereka jarang sekali bercakap-cakap. Berikut linknya,,,

 

Seri Pertama : http://www.femina.co.id/waktu.senggang/fiksi/lewat.secangkir.kopi/006/001/91

Seri Kedua : http://www.femina.co.id/waktu.senggang/fiksi/lewat.secangkir.kopi.2/006/001/92

Seri Ketiga : http://www.femina.co.id/waktu.senggang/fiksi/lewat.secangkir.kopi.3/006/001/93

Seri Keempat : http://www.femina.co.id/waktu.senggang/fiksi/lewat.secangkir.kopi.4/006/001/94

Seri Kelima : http://www.femina.co.id/waktu.senggang/fiksi/lewat.secangkir.kopi.5/006/001/95

Seri Keenam : http://www.femina.co.id/waktu.senggang/fiksi/lewat.secangkir.kopi.6/006/001/96

Seri Ketujuh : http://www.femina.co.id/waktu.senggang/fiksi/lewat.secangkir.kopi.7/006/001/97

Seri Kedelapan : http://www.femina.co.id/waktu.senggang/fiksi/lewat.secangkir.kopi.8/006/001/98

Seri Kesembilan : http://www.femina.co.id/waktu.senggang/fiksi/lewat.secangkir.kopi.9/006/001/99

Seri Kesepuluh : http://www.femina.co.id/waktu.senggang/fiksi/lewat.secangkir.kopi.10/006/001/100

 

Leave a comment

Gelas Kopi ke-124

Cerpen ini aku baca di Femina.co.id. Suka banget sama cerita yang mirip-mirip ini. Ga tau kenapa, mungkin karena mirip sama kisahku sendiri kali ya. Diawali dengan benci, acuh tak acuh, seiring berjalannya waktu jadi cinta deh. Wiwiting tresno jalaran saka kulina. Cucok banget lah sama pepatah Jawa yang satu itu. Sengaja aku simpen di blogku ini soalnya kalau mau baca lagi harus nyari lagi di web aslinya dan harus sabar. Soalnya deretan cerpennya kan nambah terus gitu, Jeng.

Ini dia linknya : http://www.femina.co.id/waktu.senggang/fiksi/gelas.kopi.ke124/006/001/828

 

 

 

 

 

Leave a comment

Ketemu Gibran Rakabuming Anak Pak Presiden

Gibran Intisari.jpg

Copyrighted : Kusumasari Ayuningtyas – Intisari

Kemarin hari yang ‘bersejarah’ buatku. Setelah mencoba berkali-kali untuk bisa ketemu dan ngobrol dengan Gibran Rakabuming *Anak Presiden Jokowi itu lho Jeng* berujung kehampaan, akhirnya Kamis 30 Oktober 2014 berhasil juga meet & greet sama Mamase. *Fiuuuhhh, ane selalu meyakini perjuangan panjang dan melelahkan itu selalu memberikan hasil.

Continue Reading »

Leave a comment

Aku Datang Lagi!!!

Pagi yang cerah. Sudah lama tidak nge-blog. Bertahun-tahun gitu. Berasa terlalu sedikit waktu begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan semenjak jadi istri dan ibu. Ah, alasan. Hihihihi.

Tapinya ya, dari single yang bangun siang-siang, berangkat kerja siang-siang, sarapan dirangkap makan siang, bener-bener perjuangan deh adaptasi jadi istri dan ibu yang baik dan solehah. Iyalah, sekarang bangun jam 5 sudah galau, bingung, bete mendadak.

Masih ikut orangtua sih, jadi mungkin agenda masak bisa ditiadakan. Tapi kan tetap saja buanyak yang musti dilakukan. Pagi rempong yang ga pake liat hari. Libur ga libur sama aja, Jeng. Si kecil tetap harus mandi jam sekian, mam jam sekian, nyuci baju jam sekian, berangkat kerja jam sekian, belum hal-hal terkait suami. Suaminya jangan sampai terlantar dong, Jeng.

Pulang kerja langsung jemput si anak kecil. Dan kisah berlanjut sampai itu bebi bala bala bobok. Eits, eike belum bebas itu. Masih ada setumpuk setrikaan yg kudu dikebut atau semakin menggunung besok malam. Kalau menabung, nabung uang aja ya Jeng, jangan nabung setrikaan. Boyoknya lho dieman. Masih bersyukur tiap setrika ada yang nemenin, ada jodha akbar, mahabarata, dan teman-teman.

Jadinya, susah juga nyari timing yang tepat buat ngeblog. *Halah. Nulis kan ga bisa kemrungsung. Harus dalam kondisi tenang, tentram, damai pokoknya terkondisikan. Pengecualian buat nulis berita dan dedlen. Itu mah yang bikin menantang, kalau belum deket dedlen biasanya moodnya belum muncul *Ngeles lagi.

Anehnya, kok fesbukan masih sempat-sempat aja ya padahal dilisting itu kok tampaknya waktunya sudah habis untuk mengabdi dan membaktikan diri pada anak, suami, keluarga besar, tetangga, masyarakat, bangsa dan negara. Ya kan paling nulis status saja to Jeng. Palingan geregetan liat tipi, berita, dan gosip-gosip trus curhat gitu di fesbuk. Itung-itung ngilangin uneg-uneg. Hihihihi. Yang ada malah dikira menebar kebencian. Eh, engga kok Jeng, kadang ada juga status penuh damai dan pesan cinta ga melulu ketidakterimaan karena terpaan isu-isu komunikasi kontemporer.

Hingga akhirnya, nyadar setelah kebingungan mencari-cari catatan soal sesuatu. Ada sekuplik data di situ. Waktu itu daku nulisnya di compose email bb aja. Jadinya, hilang bersama waktu soalnya draf tidak tersimpan otomatis di bb-ku yang begitu mandiri dan suka restart sendiri. Nyesel deh kok ga diarsipken. Trus kepikiran, kenapa tidak disimpen di blog saja. Bisa dibuka kapan saja *tapi kalau ada sambungan internet ya Jeng. Kalau buka laptop malah susah soalnya laptopnya di rumah terus jarang banget diajak maen. Paling bawa bb sama tablet. Itu aja tabletnya sering lupa belum di charge. *ampuni aim Ya Allah.

Pas buka blog, ya sudah diduga, lupa dong sama password. Terpaksa bikin lagi. Ya gapapa, gratis ini. Malah asik, serasa lahir kembali, serasa muda lagi. Pilih-pilih desain lagi. Horeee. Jadi deh blognya. Kali ini pake wordpress. Sengaja pakai nama asli dan lengkap. Nama dari lahir pemberian orang tua tanpa embel-embel gelar, juga nama belakang suami. Bangga dengan nama sendiri. Selain memang ini blog pribadi akyu. Buat corat coret dan simpen-simpen link-link yang disukai dan dianggap penting.